Jumat, 10 Desember 2010

Definisi Dialog

Dialog adalah komunikasi yang mendalam, memiliki tingkat dan kualitas yang tinggi sekaligus mencakup kemampuan untuk mendengarkan serta saling berbagi pandangan. Ini menurut kemampuan untuk secara bebas dan kreatif memahami isu-isu yang peka, disamping kemampuan untuk saling menyimak secara seksama pendapat pihak lain yang berbeda, serta menunda pendapat kita sendiri.

Prakondisi untuk dialog dan kesiapan kelompok adalah untuk menerima perubahan.
Berikut merupakan sikap yang harus dimiliki oleh seluruh peserta dialog:
  • Memahami konsep mental model dan bersedia melihat mental model anda.
  • Bersedia mempraktekkan keterbukaan diri.
  • Terbuka untuk menerima pandangan orang lain.
  • Dapat menunda desakan hati untuk menilai orang lain.
  • Mengerti peraturan dialog.
  • Memahami inti permasalahan dan berorientasi pada hasil.
  • Bersedia untuk belajar dan berpartisipasi untuk pengembangan diri.
  • Memahami apa yang terjadi bahwa untuk itu sejalan dengan misi.
  • Memahami dan setuju dengan tujuan.
Selama Proses Dialog:
  • Berikan perhatian penuh kepada setiap pembicara.
  • Dengarkan secara aktif.
  • Berbicara saat tiba giliran anda, pembicaraan tersebut haruslah kontributif
  • Lepaskan ego anda.
  • Fahami pihak lain.
  • Percaya pada proses.
  • Berbicara dalam pernyataan "saya", yang mendemontrasikan keyakinan dan perasaan kuat anda.
  • Tahu perbedaan antara agenda anda sendiri dengan agenda kelompok, bagaimana partisipasi anda dalam pelaksanaannya terhadap seseorang atau orang lain.
Tata Cara dalam Berdialog:
  1. Tidak setiap rapat memerlukan pencapaian kesepakatan.
  2. Pertemuan akan memakan waktu lebih lama, tetapi kaya materi (berbobot).
  3. Kita seyogyanya menampung pendapat lain yang terkait dengan pokok masalah.
  4. Pandangan yang berlawanan sepatutnya diperhatikan.
  5. Sebaiknya kita tidak menyela pembicaraan, melainkan lebih banyak mendengarkan.
  6. Secara perorangan kita tidak tahu apa yang paling baik.
  7. Sebaiknya kita tidak mencemoohkan orang lain, melainkan menyimak apa yang dimaksudkan orang tersebut.
  8. Sebaiknya kita menguji asumsi kita sendiri maupun asumsi orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar